Perencanaan Humas Dalam Manajemen Pendidikan Islam

Dalam penyelenggaraan program atau kegiatan apa pun, perencanaan (lebih populer dengan istilah “planning”), secara manajerial, merupakan hal krusial yang memegang peranan penting bahkan menentukan tingkat efektivitas pelaksanaan program. Perencanaan menjadi “pijakan” yang memberikan arah dalam pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang dikehendaki. Dengan demikian, baik-buruknya perencanaan akan berpengaruh terhadap baik-buruknya (tingkat efektivitas) implementasi programnya. Hal ini, karena kejelasan implementasinya.


Program dan kegiatan humas yang diselenggarakan sekolah diharapkan bisa memberikan dampak berupa kebaikan dan kemaslahatan pada sekolah dan publik-publik sekolah. Sekolah akan semakin mampu menjalankan perannya mendidik generasi penerus. Sekolah akan mampu memahami apa yang berkembang di tengah lingkungan internal dan eksternalnya. Sekolah juga akan makin baik reputasi dan relasi yang dibangun melalui kegiatan komunikasi sekolah. Awal dari tindakan itu adalah menuangkan pengetahuan dan pemikiran tersebut ke dalam perencanaan sebagai langkah awal melakukan tindakan. Tindakan yang terencana tentunya akan jauh lebih baik dibandingkan dengan tindakan yang dilakukan begitu saja atau bahkan serampangan. Rencana strategi bukanlah rencana yang statis, melainkan rencana jangka panjang yang sangat memperhatikan apa yang terjadi pada lingkungan internl dan eksternal organisasi. Dalam rencana strategis, lingkungan internal dan eksternal itu tidak dianggap statis tetapi merupakan lingkungan yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan sehingga akan menuntut organisasi untuk memperbaharui dan menyempurnakan rencana strateginya. Lebih dari itu, para ahli humas adalah program-program yang terencana dengan baik.

Perencanaan program sebaiknya dilakukan berdasarkan assesment kebutuhan dan analisis situasi sekolah. Proses perencanaan dan strategi program humas dapat dikatakan sebagai proses daur ulang. Proses tersebut tidak akan pernah berhenti dan terus menerus diperbarui yang dimulai dari pengenalan kebutuhan (need assesment), kemudian diikuti oleh perencanaan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, pemantauan serta evaluasi, kemudain kembali pada awal.

Penyusunan rencana dilakukan secara berurutan sesuai ketentuan, walau langkah dan urutannya menurut para ahli yag satu dengan lainnya berbeda. A.W.P Guruge dari UNESCO, mengemukakan secara garis besar, proses perencanaan dilakukan ke dalam tahap: 1) praperencanaan; 2) perencanaan; 3) formulasi perencanaan; 4) elaborasi perencanaan; 5) pelaksanaan perencanaan; 6) evaluasi, revisi dan perencanaan ulang. Sedangkan Udin Syaefudin Sa’ud dan Abi Syamsudin Makmun, merincikan tahapan perencanaan ke dalam kegiatan berikut:

  1. Analisis kebutuhan
  2. Formulasi tujuan dan sasaran
  3. Penentuan dan penekanan kebijakan serta prioritas;
  4. Rumusan program dan kegiatan;
  5. Pengujian tingkat kelayakan;
  6. rencana;
  7. Penilaian dan umpan balik untuk perencanaan selanjutnya

Dalam perencanaan antara satu unsur dengan unsur lainnya pada dasarnya mesrupakan unsur sistemik yang sama dan padu. Apa yang membedakan hanyalah tujuan serta perangkatnya. Dalam perencanaan, langkah awal sebelum penentuan program atau kegiatan, perencanaan dituntut melihat atau memperkirakan kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu. Langkah selanjutnya, baru disusun strategi dan langkah-langkah untuk mencapai sasaran hingga mencapai tujuan pendidikan sesuai yang diharapkan.

Sedangkan dalam buku Manajemen Pendidikan Islam yang dikarang oleh Mujamil Qomar, untuk melaksanakan manajemen Masyarakat Pendidikan Islam secara optimal, sebaiknya ditempuh beberapa strategi berlapis, dari yang bersifat usaha internal, maupun usaha eksternal. Strategi tersebut meliputi urutan sebagai berikut:

  1. Membangun citra (image building) yang baik pada lembaga pendidikan Islam dengan kejujuran, amanat, dan transparansi pengelolaan. Terutama, kemampuan membuktikan wujud nyata hasil pendanaan yang diterima dari negara maupun masyarakat.
  2. Membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam dengan menunjukkan prestasi akademik dan prestasi nonakademik kepada masyarakat luas. Prestasi akademik berupa nilai rapor, ijazah, NEM, nilai cerdas cermat, nilai olimpiade, dan nilai lomba karya ilmiah. Sementara itu prestasi nonakademik bisa berupa prestasi kejuaraan olahraga, usaha kesehatan sekolah, pramuka, dan lain sebagainya.
  3. Menyosialisasikan dan memublikasikan kelebihan-kelebihan lembaga pendidikan Islam kepada masyarakat luas terutama yang sesuai dengan selera masyarakat.
  4. Mengundang masyarakat luas untuk berkunjung ke dalam lembaga pendidikan Islam, baik saat menerima rapor, perayaan hari-hari besar nasional dan keagamaan, wisuda, maupun acara pertemuan khusus orang-orang tertentu untuk membina kegiatan di sekolah.
  5. Mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat. Pihak lembaga hendaknya juga melibatkan diri dalam acara-acara yang dilaksanakan oleh masyarakat.

Apa bila semua strategi ini ditempuh dengan tertib, maka ada keseimbangan antara kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam dengan pendekatan-pendekatan yang ditempuh oleh  manajer lembaga pendidikan Islam.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel