Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Sekolah

Dua jam pelajaran di kelas memang tidaklah akan cukup untuk menyampaikan informasi keagamaan yang begitu komplek. Kalaulah kita tidak pandai mensiasatinya maka informasi yang diterima peserta didik khawatir hanya akan menyentuh aspek kognitif saja sementara aspek efektif dan psikomotor tidak dapat tersentuh. Dalam masalah ahlak, munkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis (ulangan) para pelajar dapat menjawab dengan tepat bahkan bisa menyebutkan dalil naqlinya bahwa etika makan dan minum dalam islam diantaranya tidak boleh sambil berdiri.


Dalam masalah ibadah para peserta didik mungkin saja ketika dilakukan evaluasi tertulis bahwa sholat lima waktu itu hukumnya wajib bila ditinggalkan berdosa dan bila dilaksanakan akan mendapatkan pahala, tapi dalam kehidupan sehari-hari peserta didik tersebut masih enggan melakukan sholat. Hal ini tentu tidak kita harapkan karna apa yang dilakukan para peserta didik tidak sesuia dengan apa yang diketahuinya, diakui atau tidak kenyataan itu membuktikan bahwa pendidikan agama Islam masih belum berhasil.

Upaya untuk mensiasati keterbatasan jam pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, di antaranya:
  1. Menyelenggarakan bina rohani islam (rohis) Kegiatan bina Rohani Islam, dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu dibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaanya tidak berbenturan dengan kegiatan yang lain, didanai dengan dana yang cukup, materi yang disampaikan dapat menunjang materi intrakurikuler dengan mengguanakan metode yang menyenangkan tapi tetap edukatif serta memanfaatkan tenaga pengajar yang ada dilingkungan sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam. Waktu penyelenggaraan bina Rohani Islam (rohis) Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar pada pagi hari saja maka waktu penyelenggaraan kegiatan bina Rohani Islam (rohis) dapat dilakukan dengan setiap hari setelah selesai kegiatan belajar mengajar dengan lama pertemuan sekitar (90 menit).
  2. Mengkondisiskan sekolah dengan kegiatan keagamaan (Islamisasi Sekolah), Islamisasi sekolah memang terasa sangat ekstrim. Tetapi hal ini dimaksudkan agar seluruh warga sekolah yang beragama Islam bisa menjalankan sebagian syariat Islam dilingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta disekolah tersebut. Islamaisasi sekolah itu diantaranya bisa dilakukan melalui.
  • Setiap hari sebelum belajar diusahakan setiap pelajaran membaca do’a dan al-quran antara 5-10 ayat.
  • Setiap hari jumat (bagi yang memiliki masjid) mengadakan sholat jum’at berjamaah di masjid (musholah) yang ada di lingkungan sekolah.
  • Setiap bulan dzulhijjah menyelenggarakan kegiatan qurban di sekolah dengan melibatkan para peserta didik sehingga mereka bisa mengetahui bagaimana mekanisme pelaksanaan ibadah qurban dan bagaimana mekanisme pembagian hewan qurban.
  • Setiap bulan ramadhan diadakan pondok ramadhan dan melaksanakan kegiatan pembagian zakat fitrah dan zakat maal dengan melibatkan para peserta didik sehingga mereka tau mekanisme pembagian jakat fitrah melalui praktek.
  • Ketika menyelenggarakan peringatan hari besar Islam tidak hanya diisi dengan ceramah tetapi juga bisa yang lain yang bisa menyentuh hati dan pikiran peserta didik seperti melakukan bakti sosial, pemutaran film-film Islam.
  • Menggunakan metode insersi (sisipan), Metode insersi adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan cara inti sari ajaran islam atau jiwa agama /emosi religious diselipkan / disisipkan dalam mata pelajaran umum, metode insesrsi ini bisa dilakukan melalui seluruh mata pelajaran. Sebagai contoh ketika guru mata pelajaran ekonomi mengajarkan tentang barter dan jual beli maka bisa disipkan jiwa agama berupa informasi tentang perlunya ijab kabul dan perlunya pencatatan transaksi jual beli yang tidak dengan cara tunai.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel