Penyebab Terjadinya Konflik

Dalam sosiologi, konflik merupakan gambaran tentang terjadinya perselisihan, ketegangan atau pertentangan sebagai akibat dari perbedaan yang muncul dalam kehidupan masyarakat, baik perbedaan secara individual maupun perbedaan kelompok.


Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan pendapat, pandangan, penafsiran, pemahaman, kepentingan atau perbedaan yang lebih luas dan umum, seperti perbedaan agama, ras, suku bangsa, bahasa, profesi, golonga politik, dan kepercayaan. 

Menurut Dubois dan Miley, sumber utama terjadinya konflik terhadap hak-hak individu dan kelompok, dan tidak adanya penghargaan terhadap keberagaman. Dan salah satu penyebab terjadinya konflik adalah karena reaksi yang diberikan oleh dua orang / kelompok atau lebih dalam situasi yang berbeda-beda.
Selain itu, konflik mudah terjadi apabila prasangka telah berlangsung lama. Sebagaimana Menurut Gerungan, konflik itu terjadi karena:
  1. Kurangnya pengetahuan dan pengertian tentang hidup pihak lain.
  2. Adanya kepentingan perseorangan atau golongan.
  3. Ketidak insafan akan kerugian dari akibat prasangka. 
Pada dasarnya, secara sederhana penyebab konflik dibagi dua, yaitu:
  1. Kemajemukan horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang mejemuk secara kultural, seperti suku bangsa, agama, ras dan majemuk sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi seperti petani,  buruh,  pedagang,  pengusaha,  pegawai  negeri,  militer, wartawan, alim ulama, sopir dan cendekiawan. Kemajemukan horizontal-kultural   menimbulkan   konflik   yang   masing-masing unsur   kultural   tersebut   mempunyai   karakteristik   sendiri   dan masing-masing penghayat budaya tersebut ingin mempertahankan karakteristik budayanya tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya  seperti  ini,  jika  belum  ada  konsensus  nilai  yang menjadi  pegangan  bersama,  konflik  yang  terjadi  dapat menimbulkan perang saudara.
  2. Kemajemukan vertikal, yang artinya struktur masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Kemajemukan vertikal dapat menimbulkan konflik sosial kerena ada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekayaan, pendidikan yang mapan, kekuasaan dan kewenangan    yang besar, sementara sebagian besar tidak atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan rendah, dan tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan. Pembagian  masyarakat  seperti  ini  merupakan  benih  subur  bagi timbulnya konflik sosial.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel