Iklim Kelas

Dalam kamus besar bahasa indonesia  diungkapkan bahwa iklim merupakan keadaan hawa pada suatu daerah dalam jangka waktu yang agak lama. Dan juga dapat diartikan sebagai suasana. Kemuadian, kelas secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah tempat atau ruangan tempat guru mengajar dan peserta didik belajar. 

 

Menurut juniman silalahi menyatakan bahwa iklim kelas merupakan kualitas lingkungan kelas yang terus-menerus dialami oleh guru yang mempengaruhi tingkah laku siswa dalam menciptakan proses pembelajaran yang kondusif (Baca Juga: Manajemen Kelas). Iklim kelas dapat di tandai dengan munculnya.
  1. Sikap saling terbuka.
  2. Terjalinnya hubungan antara pribadi yang akrab.
  3. Sikap saling menghargai satu dengan yang lain.
  4. Menghormati satu sama lain.
  5. Mendahulukan kepentingan bersama.

Pentingnya Menciptakan Iklim KelasSecara rasional iklim kelas memang berpengaruh terhadap motivasi belajar. Oleh karena itu untuk memunculkan mutivasi belajar dan memelihara konsentrasi dorongan belajar sangat ditentukan oleh kondusif tidaknya lingkungan kelas tempat berlangsungnya pembelajaran berlangsung. Maka sangat penting lingkungan benar-benar berpihak pada kebutuhan minat belajar peserta didik agar mutivasi belajarnya terus meningkat. Dengan tidak melupakan scope yang lebih besar, lingkungan sekolah harus dibangun supaya bisa terciptanya ke kondusifan iklim kelas.

Yang mempengaruhi terciptanya ke kondusifan dalam kelas, ada beberapa faktor yang menjadi perannya, mulai dari guru dan peserta didik itu sendiri, sarana penunjang kegiatan belajar mengajar di kelas, hingga iklim kelas. Nasution mengungkapan bahwa ada tiga macam iklim kelas.
  1. Iklim kelas dengan sikap guru yang otoriter. Ketika dalam kegiatan proses belajar-mengajar berlangsung di dalam kelas, guru yang otoriter akan menggunakan kekuasannya atau kewenangannya untuk mencapai tujuan kegiatan belajar-mengajar yang telah di tentukan.
  2. Iklim kelas dengan sikap guru yang permisif. Sikap guru yang permisif di tandai dengan membiarkan peserta didik berkembang dalam kebebasan tanpa banyak tekanan, ancaman, larangan, perintah, atau paksaan. Kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas selalu menyenangkan, guru tidak menonjolkan dirinya dan berada dibelakang untuk memberi bantuan bila dibutuhkan. Sikap permisif ini mengutamakan perkembangan pribadi peserta didik khusunya dalam aaspek emosional, agar peserta didik bebas dari kegoncangan jiwa dan menjadi peserta didik yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan kelasnya.
  3. Iklim kelas dengan sikap guru yang nyata. Dengan sikap guru yang nyata atau rill ini di tandai dengan pemberian ke bebasan kepada peserta didik untuk melakukan aktivitas di kelas dengan diiringi dengan kegiatan pengendaliaan terhadapnya. Peserta didik di beri kebebasan untuk belajar sesuai tipe pembelajarannya serta kemampuan dan minatnya tanpa di awasi dan di atur dengan ketat. Dilain pihak peserta didik di beri tugas dengan petunjuk dan pengawasan guru.

Menurut A. Sholah yang mengutip pendapat Dreikurs dan Leron Grey ada tiga jenis suasana kelas yang di hadapi peserta didik setiap harinya.
  1. Suasana kelas autokrasi. Dalam suasana kelas yang autokrasi guru lebih banyak menerapkan perintah dan larangan, menggunakan kekerasan, penekanan, persaingan, hukuman dan ancaman untuk mengawasi perilaku peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.
  2. Suasana kelas Laissez Faire. Guru sangat sedikit bahkan sama sekali tidak memperlihatkan kegiatannya atau kepemimpinannya sebagai seorang guru serta banyak memberikan kebebasan kepada peserta didiknya. Guru melepaskan tanggung jawab kepada masing-masing peserta didiknya untuk melakukan tugas belajarnya.
  3. Suasana kelas yang demokrasi. Guru memperlakukan peserta didiknya sebagai individu yang bertanggung jawab, berharga, mampu memberikan keputusan, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapi. Manfaat yang diperoleh dari suasana kelas yang demokratis ini adalah tumbunhnya rasa percaya diri, saling menerima dan percaya satu sama lain, baik antara guru dengan peserta didik maupun antar peserta didik, guru membimbing, megembangkan, dan membagi taggung jawab untuk semua warga kelas termasuk guru itu sendiri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel