Hambatan Dalam Pengelolaan Kelas

Berbagai bentuk perilaku anak akan ditemui oleh guru di sekolah, seperti anak agresif, tak bisa tenang dan suka bertengkar, pemalu dan lebih suka menyendiri, suka menangis, dan suka rnemukul. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bagi guru bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada diri anak, atau dengan kata lain mereka sedang menghadapi masalah. Guru perlu mengerti bahwa perilaku tersebut ada sebab atau latar belakangnya. Oleh karena itu guru perlu mengetahui penyebab dari masalah-masalah yang dihadapi anak tersebut.

Perilaku anak di kelas, di depan guru, teman-temannya atau di depan orang lain disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh anak, kondisi yang dihadapinya saat itu, dan dapat pula disebabkan oleh berbagai keinginannya. Hal ini telah berkembang dalam diri anak atau dapat pula merupakan hasil interaksi antara dirinya dengan semua aspek lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat umumnya. mengatakan bahwa tingkah laku anak di dalam kelas merupakan pencerminan dari keadaan keluarganya. Bagi keluarga yang kurang stabil dapat menimbulkan ketegangan pada diri anak dan membuat mereka kurang berhasil dengan baik untuk memenuhi tuntutan akademik dan tuntutan sosial di sekolah. 

Di sekolah berbagai bentuk perilaku anak akan ditemui oleh guru, seperti anak agresif, tak bisa tenang dan suka bertengkar, pemalu dan lebih suka menyendiri, suka menangis, dan suka memukul. Perilaku-perilaku tersebut merupakan tanda bagi guru bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada diri anak, atau dengan kata lain mereka sedang menghadapi masalah.
Guru perlu mengerti bahwa perilaku tersebut tentu ada sebabnya atau latar belakang dari setiap perilaku tersebut. Oleh karena itu guru perlu mengetahui sebab-sebab yang sebenarnya dari masalah-masalah yang dihadapi anak tersebut.

Ada suatu anggapan bahwa masalah-masalah anak tidak dapat ditinggalkan di rumah. Bagaimanapun anak akan membawanya ke sekolah sehingga dapat mengganggu proses pembelajaran di kelas. Bahkan mungkin proses pembelajaran menjadi tidak terjadi sama sekali, apabila anak mengalami tekanan bathin karena keamanannya terancam, dan kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi, merasa terkucilkan, merasa tidak dihargai, dan merasa tidak disenangi. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan anak untuk belajar menjadi terhalangi sehingga usaha guru untuk melaksanakan proses pembelajaran menjadi sia-sia saja.
Pekerjaan guru tidak akan berhasil dengan baik apabila ia tidak atau kurang memahami anak. Apabila guru ingin sukses dalam melaksanakan pembelajaran, maka pengelolaan kelas yang dilakukan hendaknya mencakup usaha guru untuk memahami masalah-masalah anak dan dapat mengambil langkah penyelesaiannya dengan tepat dan benar.
Berbicara dengan pentingnya pengenalaan problem anak, yang sesuai dengan hasil observasi penulis di SDN KAPONG 1 Pamekasan, menyatakan bahwa pengenalan masalah anak sangatlah penting dilakukan, karena masalah yang dihadapi anak didik akan mengganggu keefektifan belajar anak, sehingga akan mengakibatkan proses pembelajaran di dalam kelas tidak kondusif dan tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Selaras dengan pernyataan guru guru yang lain, menyatakan bahwa pentingannya pengenalan masalah anak sangat perlu dilakukan, agar proses pembelajaran di dalam kelas akan menjadi kondusif dan sesuai dengan tujuan yang diidamkan.
Jenis-Jenis Masalah Anak dalam Pengelolaan KelasMasalah pengelolaan kelas yang bersumber dari anak dapat dikelompokkan pula menjadi dua kategori, yaitu masalah individual dan masalah kelompok.
Untuk melakukan pengelolaan kelas yang efektif diperlukan kehati-hatian dalam mengidentifikasi suatu masalah, apakah masalah ini bersifat individual atau kelompok. Kekurang hati-hatian guru dalam memahami masalah dapat menyebabkan kekeliruan dalam menentukan jenis masalah yang muncul. Misalnya, bisa saja terjadi masalah kelompok dilihat sebagai masalah individual atau sebaliknya.
Masalah individualMasalah Individual adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah individu anak. Ada 4 (empat) katagori masalah individual dalam kelas.
  1. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain
  2. Tingkah laku yang ingin menunjukan kekuatan
  3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
  4. Peragaan ketidak mampuan.
Bentuk-bentuk perilaku tersebut dapat mengganggu kelancaran pembelajaran. Masalah individual dilihat sebagai wujud dari bentuk perilaku tersebut diantaranya:
  1. Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas.
  2. Anak tertawa lebih keras dibandingkan teman-temannya
  3. Anak suka bercanda dan sering menggoda teman.
  4. Anak pura-pura sakit
  5. Anak pura-pura tidak menngerti sehingga selalu bertanya.
  6. Anak selalu menunjukkan yang lamban.
  7. Anak sering berdebat dan kehingan kontrrol.
  8. Anak cenderung menunjukan perilaku ingin mengalahkan orang lain.
  9. Anak marah-marah (tindakan aktif) dan agresif.
  10. Anak menarik diri dan tidak mau melaksanakan kewajibannya.
  11. Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas.
  12. Anak melakukan tindakan fisik yang menyakiti orang lain.
  13. Anak tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa.
  14. Anak merasa pesimis atau putus asa.
  15. Anak memiliki rasa permusuhan atau menentang semua peraturan.
  16. Anak pasif atau potensi rendah, datang ke sekolah tidak teratur.
Berbicara dengan masalah individu, hasil wawancara dan pengamatan penulis, menyatakan bahwa ada beberapa masalah anak didik yang sering ditunjukkan di kelas yaitu:
  1. Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas.
  2. Anak tertawa lebih keras dibandingkan teman-temannya. Sesuai dengan pengamatan penulis di kelas , dimana pada saat itu guru memberikan contoh gerakan senam memutar tubuh, pada saat itu juga ada salah satu anak didik yang tertawa lebih keras ketimbang teman-temannya. Tetapi bapak guru membiarkan saja. Namun, anak itu mengulangi hal yang serupa kemudian bapak guru langsung membentaknya.  
  3. Anak suka bercanda dan sering menggoda teman. Hasil pengamatan punulis masalah ini yang sering muncul di dalam kelas, pada waktu itu ada beberapa anak didik yang sering bercanda, diaman hal ini disebabkan oleh seorang anak didik yang melempar kertas ke teman di sebelahnya.
  4. Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas. Sehubungan dengan problem ini penulis menanyakan langsung kepada bapak guru ditempat, dan beliau menyatakan bahwa anak didiknnya belum mengerti sepenuhnya tentang aturan-aturan di dalam kelas. Hal ini perlu bimbingan rutin terhadap anak didik supaya mereka tidak selalu membuat pelanggaran, tuturnya.
  5. Anak tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa. Berdasarkan wawancara penulis dengan bapak guru ditempat, beliau menyatakan bahwa anak didiknya tergolong anak didik yang rajin, tetapi ada beberapa anak didik yang potensinya dibawah rata-rata. Hal tersebut mengakibatkan anak didik tidak mau menerima tugas dan selalu mengatakan tidak bisa. Namun, bapak guru mengatakan untuk menghadapi anak didik yang seperti itu butuh penekanan terhadap anak didik, supaya nantinya tidak mengatakan hal yang serupa seperti sebelumnya dan supaya menjadikan anak tersebut bermalas-malasan.
Selanjutnya masalah individu di kelas, diamana penulis mewawancari ibu guru serta melakukan pengamatan di kelas tersebut. Ibu guru selaku guru mata pelajaran Pendidikan kewarga negaraan menuturkan ada beberapa masalah anak yang sering ditunjukkan di kelas, yaitu:
  1. Anak sering menunjukan gerak tubuh/perilaku yang tampak kebodoh-bodohan/berbuat aneh yang semata-mata untuk menarik perhatian kelas. Pengamatan penulis berkenaan dengan masalah ini ada seorang anak didik yang sering menunjukkan perilaku yang tampak kebodoh-bodohan, samapai-samapi anak ini membuat keramaian sendiri di dalam kelas. Pada saat itu, ibu guru dikagetkan dengan tingkah laku anak tersebut yang berbicara sendiri dengan nada yang cukup keras dan gerak-gerik tubuhnya selalu kekanan dan keiri, seakan-akan anak tersebut tidak betah di dalam kelas. Kemudian ibu guru menanyakan apa yang sedang ia lakukan kemudian langsung menyuruh untuk tidak berbicara lagi.
  2. Anak selalu lupa pada aturan penting dalam kelas. Pengamatan penulis berkenaan dengan masalah ini, tidak jauh berbeda dengan jawaban bapak guru sebelumnya, bahwa anak didik memang tidak terlalu paham terhadap peraturan kelas yang sudah di tetapakan, dan hal ini memang membutuhkan bimbingan yang rutin oleh setiap guru di sekolah tersebut. Aturan penting di kelas sebagaimana terlampir.
  3. Anak sering tidur di dalam kelas pada saat pembelajaran berlangsung. Pengamatan penulis dalam masalah ini memang ada beberapa anak didik yang sedang tidur ketiaka pembelajaran berlangsung. Namun hal tersebut dibiarkan saja oleh ibu guru. Kemudian penulis menanyakan hal tersebut kepada beliau, kenapa dibiarkan saja? beliau menuturkan bahawa anak tersebut memang sudah kebiasaan tidur di kelas, anak tersebut juga jarang untuk menulis pelajaran, tetapi anak didik tersebut cukup cerdas, ketika ia ditanya oleh ibu guru tentang pelajaran yang sedang diajarkan, anak tersebut langsung menjawabnya dengan benar dan tepat. 
Dapat saya simpulkan bahwa cara guru antara guru yang lain berbeda beda untuk membuat anak didiknya mengikuti pertauran peraturan yang telah di tetetapkan.




Masalah kelompok
Masalah kelompok adalah masalah pengelolaan kelas yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Johnson dan Bany (dalam Hasibuan, 1994) mengemukakan enam kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
  1. Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku, dan tingkatan sosio-ekonomi. Kelas yang kurang kohesif ditandai dengan lemahnya hubungan interpersonal di dalam kelas. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkat sosial ekonomi. Sering terlihat adanya permusuhan sekelompok anak perempuan dengan sekelompok anak laki-laki. Lemahnya hubungan ini terlihat pula karena perbedaaan suku, kota asal, kampung atau tempat tinggal. Di dalam kelas sekelompok anak ini bisa menampakkan hubungan yang sangat jarak dan tidak akrab dan terkadang bisa menimbulkan pertentangan-pertantangan di dalam kelas. Pertentangan itu bahkan ditambah pula oleh faktor pemicu lain seperti berbedanya tingkat sosial ekonomi mereka. Setiap kelompok anak membangun suatu kekuatan atas dasar persamaan-persamaan yang dimiliki. Dalam hal ini masing-masing kelompok bisa saling menutup diri dalam pergaulannya, sehingga sulit jika guru menugaskan suatu tugas kerjasama. Bedasarkan wawancara penulis di kelas, bapak guru menuturkan tidak ada masalah dengan masalah kelompok ini. Namun beda halnya dengan kelas yang lain, dimana Ibu guru menuturkan, bahwa masalah perbedaan jenis kelamin yang sering timbul di dalam kelas. Misalnya anak didik yang jenis kelaminnya perempuan berkelompok sesama jenisnya dan mereka terkadang tidak akrab dan menimbulkan hubungan yang tidak erat terhapad teman yang berjenis kelamin laki-laki, dengan alasan anak didik yang berjenis kelamin laki-laki suka menggunya, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas. 
  2. Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas dalam menyanyi karena suaranya sumbang. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang siswa dapat pula menimbulkan masalah dalam kelas, misalnya dengan mentertawakan, menghina secara bersama-sama, yang menyebabkan kelas menjadi ribut dan tidak kondusif untuk belajar. Biasanya anak yang diketawakan anak yang pemalu, cengeng, suaranya sumbang kalau bernyanyi dan berpenampilan kurang menarik. Berdasrkan pengamatan penulis bahwasanya tidak ada masalah seperti ini di dalam kelas baik itu di kelas. Begitupun dengan apa yang dituturkan oleh bapak guru dan ibu guru.
  3. Membesarkan hati anggota kelompok kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas. Dukungan kepada badut kelas mengakibatkan pula makin berlarutnya masalah di dalam kelas. Anak yang membadut makin menunjukkan kebolehannya melucu dan berperilaku yang aneh-aneh. Hal ini menimbulkan sorak-sorai dan tertawaan anak yang berlebihan sehingga dapat mengalihkan perhatian anak untuk belajar. Pengamatan penulis dalam masalah ini juga tidak terdapat di dalam kelas.
  4. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan. Mudahnya teralihkan perhatian anak selain karena anak yang membadut juga karena hal-hal lain yang dengan cepat memancing perhatian anak, seperti melihat peralatan belajar dan mainan kawan yang baru, tindakan-tindakan iseng dari kawan, dan situasi lingkungan sekolah yang kurang mendukung kegiatan belajar. Sesuai dengan pengamatan penulis di kelas, ada beberapa anak didik yang saling senggol-menyenggol ketika pembelajaran praktik di dalam kelas yang dibentuk kelompok oleh bapak guru kemudian teman disebalahnya menejadi terpengaruh dengan aksi tersebut, dimana hal ini menyebabkan kerja kelompok tidak fokus. Kemudian  dikelas dengan hasil pengamatan penulis tidak terjadi masalah seperti ini. Namun setelah penulis mewawancarai ibu guru beliau menuturkan, biasanya kalu kerja kelompok ada beberapa anak didik yang sering mempengaruhi temannya untuk bicara sendiri, biasanya hal ini disebabkan oleh anak didik yang memang notabeninya sering berbicara sendiri dan malas untuk mengerjakan tugas yang sudah diperintahkan oleh gurunya.
  5. Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil. Masalah anak secara kelompok juga terjadi karena semangat kerja rendah sebagat akibat perlakuan yang tidak adil dari guru, seperti ketidakadilan dalam menentukan jenis tugas yang dikerjakan, dan peralatan atau bahan yang ditentukan guru. Dengan hasil wawancara dan pengamatan penulis baik di kelas ini dan di kelas itu, tidak ada masalah dalam hal ini.

Dapat disimpulkan mengenai masalah kelompok yang terjadi pada anak didik di kelas, tidak terlalu banayak hanya ada saatu masalah yang terjadi, yaitu tentang kekompakan kerja tim yang mengakibatkan kerja tim berantakan dan tidak fokus. Cara yang digunakan oleh bapak Irfan sesuai dengan pernyataan beliau, anak didik harus fokus dalam pembelajaran, cara ini menurut beliau butuh penekanan terhadap anak didik. 

Sedangkan di kelas yang lain, masalah yang terjadi juga sedikit, hanya saja cara yang digunkan oleh ibu fatimah untuk menanggulangi masalah yang terjadi, lebih menekankan pada kebebasan pada anak didik.

Beberapa Pendekatan Menanggulangi Masalah Anak
  1. Pendekatan Otoriter. Pendekatan otoriter atau pendekatan kekuasaan seperti yang diuraikan oleh Djamrah, sebagaimana dikutip oleh Muliani, guru menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut murid untuk menaatinya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itu guru mendekatinya.  
  2. Pendekatan Instruksional. Pendekatan instruksional adalah pendekatan yang didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik. 
  3. Pendekatan Eklektik. Pendekatan eklektik disebut juga pendekatan pluralistik. Syaiful Bahri Djamarah menyatakan sebagaimana yang dikutip Novan Ardy dan Wiyani bahwa pada pendekatan eklektik atau pluralistik ini, pengelolaan kelas dilakukan dengan menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki kemungkinan untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi kelas yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendekatan eklektik atau pluralistik adalah suatu pendekatan yang mana seorang guru dapat memilih atau memadukan berbagai pendekatan dalam manajemen kelas untuk menciptakan kelas yang kondusif. Pendekatan ini mendasarkan cara pandang pada pemahaman akan adanya kekuatan dan kelemahan dari semua pendekatan yang ada. Pendekatan ini mungkin lebih efektif  karena cukup fleksibel, dimana guru memilih dan menggabungkan secara bebas berbagai macam pendekatan sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada.
  4. Pendekatan Iklim Sosio-emosional. Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik-guru dan atau peserta didik-peserta didik dan guru menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik.
  5. Pendekatan Primisif. Pendekatan yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar yang memaksimalkan kebebasan pembelajar untuk melakukan sesuatu. Sehingga pembelajar bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat perkembangan pembelajar. Berbagai bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan segala inisiatif dan tindakan pada diri pembelajar.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel