Prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM)

Prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM)

Tuesday, October 23, 2018

Selanjutnya TQM (Total Quality Manajemen) terdapat prinsip umum manajemen mutu terpadu yang harus diwujudkan secara konsisten yang sungguh-sungguh meliputi:


  1. Organisasi yang memfokuskan pada ketercapaian kepuasan pelanggan (Custumer Focus Organization). Organisasi dalam hal ini menejemen harus dapar mengoptimalkan seluruh potensi dan sumber daya organisasi dan sistem yang ada untuk menciptakan aktivitas terhadap tercapainya kepuasan pelanggan. Tercapainya kepuasan pelanggan meliputi seluruh stakeholders, baik yang berada di dalam organisasi (untuk perguruan tinggi, dosen, dan karyawan) dan yang berada di luar organisasi misalnya mahasiswa, pemerintah, dunia usaha sebagai pemakai produk (lulusan), dan pemasok serta masyarakat pada umumnya.
  2. Kepemimpinan (Leadership). Kepemimpinan merupakan proses untuk mempengaruhi pihak lain untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh karenanya pemimpin harus memiliki visi dan misi yang jelas, sehingga kedua dapat dituangkan dalam kebijakan yang akan diambil. 
  3. Keterlibatan seluruh partisipan organisasi (People Organization). Seluruh komponen organisasi tak terkecuali dalam lembaga pendidikan tinggi harus dilibatkan. Artinya seluruh setivitas pendidikan tinggi harus selalu berusaha untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. Perbaikan bukan hanya dari pihak pimpinan, dosen, karyawan, tatapi dosen juga harus memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan. Dengan kata lain semua sitivitas pendidikan tinggi harus dilibatkan dalam upaya membarikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada para pelanggan.
  4. Pendekatan yang melakukan pada perbaikan proses (Process Approach). Kurangnya dukungan sistem informasi dan alat ukur keberhasilan TQM berasumsi bahwa output akhir suatu organisasi tidak semata-mata dilihat secara persial, tetapi suatu proses yang panjang. Proses tersebut dilakukan secara sadar oleh setiap individu. Kegiatan tersebut juga dilakukan saling terkait satu dengan lainnya sehingga menghasilkan output organisasi.
  5. Penerapan manajemen dengan pendekatan sistem (System Approach). Pendekatan sistem dalam konteks organisasi, upaya menyempurnakan proses tertentu harus dikaitkan dengan proses lainnya. Oleh karena pihak-pihak yang terkait dengan proses tersebut merupakan rangkaian yang tidak dapat dipishakan.
  6. Penerapan pengambilan keputusan yang didasarkan fakta (Factual Approach Improach to Decision Making). Manajemen mutu terpadu berdasarkan kepuasan pelanggan. Oleh karenanya maka orientasi menajemen mutu terpadu harus mendasarkan pada fakta yang diinginkan oleh pelanggan. Pada sisi lain kepuasan berkaitan dengan kualitas. Implikasinya kualitas kepuasan tersebut harus dapat diukur dan dapat dilakukan monitoring setiap saat.
  7. Hubungan dengan supplier yang saling menguntungkan (Mutually Beneficial Relationship). Filosofis manajemen mutu terpadu di perguruan tinggi: pertama, pemenuhan kebutuhan pelanggan yang sebaik-baiknya atau kepuasan pelanggan, serta kedua, menciptakan budaya kerja dan budaya akademik dalam diri karyawan maupun tenaga kependidikan dalam layanan pendidikan.
  8. Langkah perbaikan yang dilakukan secara terus menerus (Continual Improvement / Kaizen). Inti perbaikan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan adalah adanya human resources emprovement baik bagi tenaga edukatif maupun administratif. Realitas menunjukkan belum seluruhnya pemimpim organisasi menyadari arti pentinya pemberdayaan tenaga akademik dan administratif. Para pemimpin sering lebih mementingkan pengembangan fasilitas atau pembangunan fasilitas.
  9. Menentukan standar mutu (quality assurance). Konsep ini menentukan standar-standar mutu dari semua komponen yang bekerja dalam proses produksi atau transformasi lulusan lembaga pendidikan.
  10. Prinsip perubahan kultur (change of culture). Konsep ini bertujuan untuk membentuk budaya organisasi yang menghargai mutu dan menjadikan mutu sebagai orientasi semua komponen organisasi. Jika manajemen ini diterapkan dilembaga pendidikan, maka pihak pimpinan harus berusaha membangun kesadaran anggotanya. 
  11. Prinsip perubahan organisasi (upside down organization). Jika visi, misi, serta tujuan organisasi sudah berubah atau mengalami perkembangan, maka sangat dimungkinkan terjadinya perubahan organisasi yang bukan hanya menjadi perubahan wadah organisasinya, melaikan sistem atau struktur organisasi yang melambangkan hubungan-hubungan kerja struktur organisasi yang melambangkan hubungan-hubungan kerja dan kepengawasan dalam organisasi. 
  12. Mempertahankan hubungan dengan pelanggan (keeping dose to the custumer). Karena organisasi pendidikan menghendaki kepuasan pelanggan, maka perlunya mempertahankan hubungan yang baik dengan pelanggan sangat penting.
Jika prinsip-prinsip dalam TQM tersebut dihubungkan antara satu dan lainnya, maka akan terlihat, bahwa di dalam TQM ini terkandung misi untuk memusatkan manajemen pada upaya menggerakkan para karyawan agar memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para pelanggan. Yang susuai dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pada bab IV pasal II ayat 2 menyatakan bahwa “pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”.
Dalam prinsip-prinsip yang dipakai oleh P2M STAIN Pamekasan disini hampir semuanya sudah dipakai yang intinya adalah bagaimana untuk memuaskan pelanggan atau custumer.

Dapatkan Update Terbaru