Pendekatan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi

Berdasarkan pasal-pasal sebagaimana disebutkan pada bagian pengertian kurikulum jelaslah bahwa kurikulum pendidikan dapat dibuat oleh perguruan tinggi (dalam hal ini program studi). Dengan demikian ada kurikulum yang berlaku secara nasional, tetapi juga terdapat kurikulum lokal. Kurikulum nasional sering juga disebut dengan kurikulum inti yang harus diikuti oleh setiap program studi yang sama. Sedangkan kurikulum lokal merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi yang berkaitan dengan potensi dan kebutuhan lingkungan, serta menjadi ciri dari perguruan tinggi yang bersangkutan. 

 

Kurikulum dapat di maknai dengan seluruh pengalaman yang dirancang oleh lembaga pendidikan yang harus disajikan kepada para peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. pengembangan kurikulum pendidikan tinggi dapat dilakukan melalui pendekataan:
  1. Pendekatan Topik. Dalam kaitan ini pengembang kurikulum mengidentifikasi berbagai topik yang berkaitan dengan program studi yang ingin dirancang kurikulumnya. Para pengembang kurikulum biasanya (perancang kurikulum) mencari berbagai referensi yang berkaitan dengan program studi yang akan dibuka atau dikembangkan. Dengan demikian pendekatannya lebih bersifat teoritik, karena hanya berdasarkan berbagai kajian, yang akhirnya di asumsikan sebagai kurikulum yang dapat memahami kompetensi lulusan yang diharapkan oleh program studi yang dikembangkan atau dibuka tersebut. Jadi, pendekatan topic disini adalah pendekatan yang dilakukan oleh kurikulum bahwasanya hal ini cukup dilakukan cara teori saja
  2. Pendekatan Kompetensi. Dalam pendekatan ini para perancang (pengembang) kurikulum menetunkan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang tamatan suatu program studi tertentu. Kompetensi profesional yang telah dirancang oleh perancang kurikulum dan dalam menentukan materi pengajaran, metode penyajian, dan evaluasinya. Dengan demikian para perancang kurikulum harus menetunkan kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh para tamatan sehingga secara akumulatif dapat menunjukkan kompetensi tamatan program studi yang bersangkutan, misalnya untuk suatu program studi menentukan kompetensi para lulusannya dapat mengelola perpustakaan, maka sub kompetensinya harus dijabarkan. Setelah dijabarkan kompetensinya maka para perancang mencari materi pelajarannya. Jadi, pendekatan kompetensi disini adalah pendekatan yang dilakukan oleh kurikulum bahwasanya hal ini mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan atau kompeten dalam bidangnya (jurusannya).
  3. Pendekatan Lapangan. Pendekatan ini lebih menekankan pada apa yang dilakukan di lapangan. Berdasarkan data yang diperlukan di lapangan para perancang kurikulum menentukan bahan kajian atau materi pelajaran yang harus di kuasai oleh para peserta didik.Dalam pendekatan ini tak lain ialah berupa pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan civitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mengembangkan apa yang telah diperoleh dalam satuan pendidikannya, yakni pendidikan tinggi. Jadi, pendekatan lapangan di sini adalah pendekatan yang dilakukan oleh kurikulum bahwasanya hal ini semua mahasiswa terjun ke lapangan untuk mengetahui apakah teori itu sama dengan apa yang ada di lapangan atau tidak.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel