Manajemen Organisasi Sekolah/Madrasah

Istilah manajemen berasal dari bahasa latin, Prancis dan Italia yaitu; manus, mano, manage/menege, meneggio, meneggiare. Secara etimologi manajemen berasal dari kata management. Kata management berasal dari kata manage, yang berarti; melatih kuda dalam melangkahkan kakinya, bahwa dalam menajemen terkandung dua makna, yaitu; mind (berpikir) dan action (tindakan). Secara bahasa manajemen adalah proses penataan dengan melibatkan sumber-sumber potensial baik yang bersifat manusia maupun non-manusia guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien.



Sedangkan organisasi berasal dari bahasa latin, organum, yang berarti alat, bagian, unsur, unit, anggota, atau badan. Secara definisi, organisasi adalah unit sosial yang sengaja dibangun atau distrukturkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks institusi persekolahan, organisasi dapat didefinisikan sebagai unit sosial yang berbasis pada ideologi akademik atau vokasional yang sengaja dibangun dan distrukturkan untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien.

Kini jelas bahwa pengertian Manajemen Organisasi Sekolah/Madrasah adalah proses penataan dengan melibatkan unit sosial yang terdiri atas kepala sekolah, guru, staf tata usaha, laboran, teknisi sumber belajar, pustakawan penjaga sekolah, siswa, dewan komite sekolah dan lainnya guna mencapai tujuan yang efektif dan efisien.

Dengan demikian, manajemen mencapai tujuan dari orang-orang lain yang diwadahi dalam organisasi. Oleh karena manajemen mencapai tujuan melalui organisasi. Artinya, tanpa organisasi berarti tidak ada kegiatan manajemen, dan juga sebaliknya tanpa manajemen maka tujuan organisasi juga tidak akan tercapai.

Sekolah sebagai tempat mendidik generasi penerus yang akan berperan dalam kehidupan yang akan terus berubah, sehingga bila sekolahnya itu sendiri sebagai organisasi tidak siap untuk menghadapi persaingan, maka sekolah itu tidak akan mungkin dapat membentuk peserta didik yang kompeten dan punya kapabilitas cukup dalam menghadapi perubahan. Oleh karena itu sikap organisasi sekolah terhadap perubahan akan menentukan keberhasilan sekolah tersebut dalam mengantisipasi kemungkian-kemungkinan yang akan terjadi, dan hal ini perlu sikap kreatif dan inovatif, dengan membangun organisasi sekolah pembelajar. Terwujudnya organisasi sekolah pembelajar akan dapat menciptakan dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat.

Sebagai lembaga pendidikan penghasil lulusan yang akan berkiprah di masyarakat yang terus berubah, sekolah perlu melakukan dua hal dalam konteks membangun organisasi pembelajar, yaitu;
Menciptakan kondisi internal organisasi/iklim organisasi yang dapat mendorong seluruh anggota dari mulai staf administrasi, guru dan kepala sekolah untuk menjadi menusia pembelajar melalui kegiatan seperti;
  1. Menyediakan perpustakaan khusus guru dan staf sekolah untuk mendorong mereka membaca.
  2. Menyelenggarakan rapat sekolah yang di dalamnya tidak hanya berbicara urusan dinas, tapi membicarakan/mendiskusikan topik tertentu yang berkaitan dengan masalah pendidikan.
  3. Menyediakan waktu khusus untuk acara diskusi yang diselenggarakan sekolah/diskusi internal secara rutin dengan narasumber yang ahli dalam bidang pendidikan.
  4. Menyelenggarakan seminar dangan melibatkan guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya secara berkala yang dapat menghadirkan pakar dalam bidang pendidikan yang dapat meberikan informasi penting bagi perbaikan proses pendidikan.
  5. Untuk tenaga admistrasi, didorong untuk lebih mendalami hal-hal teknis berkaitan dengan pengelolaan sistem informasi.
Menciptakan interaksi edukatif yang produktif antara kepala sekolah, guru, dan staf dengan seluruh stakeholder sekolah terutama dengan siswa melalui kegiatan berikut;
  1. Membangun situasi pembelajaran yang lebih mendorong siswa untuk belajar dengan menggunakan berbagai metode dan media pembelajaran yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
  2. Mendorong kegiatan siswa dalam bentuk diskusi di antara siswa sendiri berkaitan dengan masalah-maslah yang menjadi consern para remaja.
  3. Mendorong siswa membentuk kelompok belajar dengan penjadwalan dan pelaporan kegiatan yang diatur sekolah, dan dimonitoring dengan cermat oleh wali kelas atau guru bidang studinya sesuai dengan jadwal.
  4. Memberikan pemahaman tentang masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran, serta masalah yang berkaitan dengan belajar siswa kapada para orang tua siswa, melalui ceramah-ceramah umum.
  5. Memberdayakan kapabilitas komite sekolah agar lebih consern pada proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah, melalui diskusi-diskusi yang digagas oleh sekolah atau oleh komite sekolah, sehingga tumbuh kepedulian bersama.

Upaya membangun organisasi sekolah pembelajar memerlukan kerja keras, sekolah tidak hanya melakukan pembelajaran organisasi yang memampukan penyesuaian diri dengan perubahan lingkungan tetapi juga dituntut melakukan pembelajaran yang dapat mendorong kreativitas dan inovasi sehingga mampu mendahului perubahan-perubahan yang terjadi, menggunakan istilah sange sekolah perlu melakukan pembelajaran adaptif sekaligus pembelajaran generatif. Semua ini memerlukan pencermatan kondisi lingkungan eksternal untuk kemudian dikristalisasi menjadi visi dengan memerhatikan kemampuan yang ada pada kondisi internal. Visi tersebut kemudian dijabarkan mejadi misi, tujuan dan srtategi sekolah, untuk kemudian diimplementasikan oleh organisasi.

Untuk melakukan implementasi strategi untuk mencapai tujuan pendidikan, lingkungan organisasi sekolah harus menciptakan kondisi yang mendorong terlaksananya pembelajaran individu dan kelompok untuk tiap unsur organisasi yang dalam hal ini staf administrasi, guru dan kepala sekolah, kemudian pelaksanaan oleh unsur-unsur organisasi tersebut kemudian ditransformasikan menjadi pembelajaran organisasi yang dapat mendukung pencapaian tujuan yang lebih efektif dan efisien. Pembelajaran ini kemudian harus mampu mejadikan proses pembelajaran siswa menjadi lebih kondusif dengan partisipasi aktif siswa, dan untuk mendorong hal tersebut para siswa diharuskan pada tahap awal melaksanakan diskusi, baik di dalam kelas maupun dalam kegiatan ekstra kurikuler, disamping itu siswa didorong/diharuskan membuat kelompok belajar dengan pengawasan yang melibatkan orang tua sebagai stakeholder. Untuk supaya hal ini berjalan dengan baik komunikasi dan dukungan komite sekolah beserta stakeholder lainnya amat diperlukan, oleh karena itu sekolah perlu membangun jaringan kerja yang baik dengan seluruh stakeholder, agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel