Manajemen Mutu Terpadu Total Quality Management (TQM)

Manajemen mutu terpadu (Total Quality Management) merupakan suatu sistem nilai yang mendasar dan komperehensip dalam mengelola organisasi dengan tujuan meningkatkan kinerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang dengan memberikan perhatian secara khusus pada tercapainya kepuasan pelanggan dengan tetap memperhatikan secara memadai terhadap terpenuhinya terhadap kebutuhan seluruh stakeholders organisasi yang bersangkutan. Masalah kualitas dalam Manejemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) menuntut adanya keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak dalam organisasi.
 


Abuddin Nata mengemukakan bahwa Total Quality Manajemen adalah suatu keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan sesuatu dengan selalu baik sejak awal. Kata total (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa setiap orang yang berada dalam sebuah organisasi harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan secara terus menerus. Kata manajemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi, apa pun status, posisi atau peranannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing.
 
Total Quality Manajemen (TQM) pada mulanya adalah sebuah konsep menajemen yang digunakan dalam kegiatan corporate atau perusahaan business yang tunduk pada hukum transaksional. Yaitu bahwa setiap usaha harus terukur dan dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan sesuai dengan nilai uang yang dibayarkan atau jasa yang diberikan. Dengan cara demikian, perusahaan tersebut akan dapat memuaskan pelanggan, memperbaiki citra positif, dan akhirnya dapat mempertahankan kelanjutan (sustainability) perusahaan tersebut, dan dapat berhasil dan sukses dalam menghadapi persaingan global yang ketat.
 
Selanjutnya TQM digunakan dalam kegiatan lainnya, terutama dalam kegiatan pendidikan. Hal ini dilakukan berdasarkan kesempatan umum bidang perdagangan (General Agreement for Trading Service) yang menegaskan, bahwa bidang pendidikan termasuk salah satu bidang usaha yang diperdagangkan. Dengan menggunakan TQM ini, maka manajemen pendidikan tidak lagi berbasis pada proses atau semata-mata motivasi spiritual yang berbasis nirlaba, melaikan menggunakan manajemen corporate, yaitu bahwa seluruh peserta didik, siswa atau mahasiswa ingin mendapatkan pelayanan yang memuaskan. Apalagi tuntutan kepuasan ini tidak dipenuhi maka, siswa atau mahasiswa akan meninggalkan lembaga pendidikan tersebut, sehingga lembaga pendidikan tersebut menjadi terancam kelanjutannya.
 
Selanjutnya dengan pelaksanaan TQM yang berbasis pada memuaskan pelanggan tersebut, maka berbagai komponen pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, sarana prasarana, pengelolaan, pembiyaan, dan lain sebagainya dikonstruksi sesuai dengan standar, indikator, dan norma tertentu yang diturunkan dari sesuatu yang ideal, atau diangkat dari masukan, saran dan harapan dari para peserta didik dan mahasiswa. Semua ini pada akhirnya ditunjukkan untuk mewujudkan mutu pendidikan yang unggul yang dapat memuaskan pelanggan.
Sugeng Pidarto berpandapat bahwa manajemen mutu terpadu merupakan aktivitas yang berusaha untuk mengoptimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan yang terus menerus atau produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
 
Kerana itu, pendekatan menejemen mutu terpadu tidak hanya bersifat persial, tetapi komperehensip dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan denga produk yang dihasilkan. Masalah kualitas juga tidak lagi dinamai dan dipandang sebagai masalah teknis (Habermas memandangnya sebagai rasionalitas instrumental dan ekonomis), tetapi lebih berorientasi pada terwujudnya kepuasan konsumen atau pelanggan. Manajemen mutu terpadu juga melibatkan faktor fisik dan non fisik, semisal budaya organisasi, gaya kepemimpinan dan pengikut. Keterpaduan faktor-faktor ini akan melibatkan kualitas pelayanan menjadi lebih meningkat dan bermakna.
 
Manajemen mutu terpadu merupakan upaya untuk mengoptimalkan organisasi dalam rangka kepuasan pelanggan. Dengan demikian manajemen mutu terpadu berkaitan dengan:
  1. Pelanggan, baik internal organisasi maupun eksternal organisasi.
  2. Kualitas, yang dimaksud adalah kualitas pelayanan baik secara individual maupun kelembagaan terus menerus dilakukan oleh setiap individu dan kelembagaan.
  3. Pengambilan keputusan didasarkan atas keputusan yang bersifat ilmiah.
  4. Adanya komitmen semua komponen dalam organisasi.
  5. Adanya kerjasama tim.
  6. Perbaikan dilakukan secara terus menerus.
  7. Kebebasan dilakukan secara terkendali.
  8. Adanya kesatuan tim.
  9. Keterlibatan personal secara keseluruhan.
Tujuan utama TQM (Total Quality Management) dalam bidang pendidikan adalah meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan, terus menerus, dan terpadu. Serta mengorientasikan sistem manajemen, perilaku staf, fokus organisasi dan proses-proses pengadaan pelayanan sehingga lembaga penyedia pelayanan bisa berproduksi lebih baik, pelayanan yang lebih efektif yang bisa memenuhi kebutuhan, keinginan dan keperluan pelanggan.
 
TQM (Total Quality Management) juga merupakan suatu filosofi suatu peningkatan yang berkelanjutan, yang dapat dijadikan alat praktis oleh lembaga pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan serta harapan pelanggan sekarang dan dimasa yang akan datang. Dalam kaitan ini, seluruh bagian dan sistem lembaga harus saling mendukung dan saling melengkapi. Keberhasilan unit-unit tersebut mempengaruhi keberhasilan organisasi secara menyeluruh.
 
Dari hasil wawancara saya dengan bapak Mohammad Toha selaku dosen STAIN Pamekasan bahwa pengertian manajemen mutu terpadu adalah sebuah perencanaan, pengorganisasian seluruh elemen, dan seluruh standart-standart dipebaharui. Untuk mencapai atau menciptakan lembaga pendidikan yang dapat dikatakan bermutu disini ada Tujuh standart perguruan tinggi yang semuanya mengacu kepada penjaminan mutu, yaitu: pertama standart visi, misi, tujuan yang harus diperbaiki untuk tercapai pencapaian mutu tersebut. Kedua Standart pengelolaan atau govermen yang dimulai dari tata pamong, misalnya hirarki dari ketua turun ke unit-unit jurusan untuk mengetahui bagaimana pendaftaran skripsi di unit jurusan, bagaimana pelayanan mahasiswa di unit akademik, dan bagaimana pengedaan barang di unit sarana dan prasarana dan itu yang dinamankan sebagai pengelolaan untuk mencapai suatu mutu. Ketiga standart kemahasiswaan, bagaimana input mahasiswa, bagaimana proses penerimaan, dan bagaimana proses pengelompokan dan itu semua dinamakan manajemen kemahasiswaan yang harus diperbaiki dari ektra kurikuler, layanan mutu kamahasiswaan sampai kepada mereka menjadi alumni, sampai mereka yudisium, wisuda dan sebagainya. Yang mana itu semua diupayakan dengan sistematis malalui pengelolaan manajemen agar mencapai suatu mutu tersebut. Keempat standart SDM, pendidik, dosen dan tenaga kependidikan mulai dari input, pengembangan, pembinaan karir, pembinaan kesejahteraan mereka sampai mereka bertugas yang mana itu semua dikelola sedemikian rupa untuk mencapai mutu. kelima standart isi atau kurikulum, standart kurikulum dikelola sedemikian rupa apa yang menjadi institusi kurikulum di STAIN Pamekasan untuk mengayomi dan dianalisa kurikulum pendukung ditingkat jurusan samapai kurikulum utama ditingkat prodi yang mana itu semua direncanakan dan diproses sedemikian rupa untuk mencapai mutu. Keenam standart pembiyayaan, bagaimana menetapkan UKT dengan mekanisme tersendiri agar mencapai mutu, dan dimana dalam menyesuaikan fasilitas disini melihat dari segi pendapatan, membarikan layanan kepada mahasiswa, memberikan gaji kepada dosen yang honorer harus dikaitkan dalam BNBP yang mana itu semua dikelola sedemikian rupa untuk mencapai mutu. Ketujuh standart penelitian dan pengadian kepada masyarakat, bagaimana penelitian itu membarikan kontribusi kepada khazanah keilmuan, seperti apa penelitian yang berhak dibiyayai oleh negara dan seperti apa penelitian yang ditolak, disini memberikan standart manajemen penelitian. Seperti apa standart pengabdian yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan kepada masyarakat, jadi disini dikelola, direncanakan, diorganisasikan, dikerahkan, dikontrol agar mencapai mutu.
 
Mutu adalah ketersampaian atau ketercapaian pada target minimal BSNP (badan standar nasional pendidikan) atau SNPT (standart nasional pendidikan tinggi) yang mana sudah memberikan markin melalui PP49 tahun 2014 bagaimana upaya tersebut mencapai target minimal. Misalnya, pendidik minimal S2 bersertifikasi dan punya pengalaman. Siapapun dan apapun yang tidak mencapai ketujuh standart ini berarti tidak dapat dikatakan bermutu.
 
Lembaga pendidikan yang bermutu melalui TQM akan memiliki tiga ciri, yaitu: Fokus kepada kepuasan pelanggan dengan bagaimana pelanggan itu puas, pelanggan dalam suatu pendidikan merupakan mahasiswa, wali mahasiswa. Indikator pertama Dimana lembaga pendidikan itu dikatakan bermutu apabila output yang diperoleh dapat diterima oleh lembaga-lembaga lain dan dinyatakan berkualitas. Indikator kedua yaitu adanya perbaikan yang berkesinambungan artinya ketujuah standart itu tidak hanya ditujukan untuk akreditasi akan tetapi bagaimana suatu lembaga pendidiakan tetap selalu dipandang baik, tidak hanya kali ini saja. Indikator ketiga adanya kerja tim yang solid, artinya dikala pimpinan kompeten didalam bidangnya maka staf-staf yang lain juga dituntut untuk berkompeten dan dengan itu lembaga pendidikan dikatakan lembaga yang bermutu.
Manfaat dari TQM disini menurut hasil wawancara saya kepada Mohammad Toha selaku dosen STAIN Pamekasan yaitu: kita akan butul-betul mencapai visi dari empat visi utama dalam STAIN itu sendiri, dengan menghasilkan lulusan yang profesional dalam karya, unggul dalam ilmu. Dari itu maka kepuasan mahasiswa dan masyarakat akan tercapai. Dan pendidikan akan dipandang sebagai lembaga pendidikan yang bermutu.
 
Dan dari wawancara saya dengan Bapak qomar selaku P2M di STAIN pamekasan mengatakan bahwa pusat penjaminan mutu dipendidikan tinggi disini, mutu yang harus dijaminkan yaitu seluruh elemen yang ada didalam kampus diantaranya dosen, mahasiswa, karyawan dan staf-staf lain yang ada didalamnya. Mutu yang harus dijamin disini yaitu mengenai proses rekrutmen, proses pengajaran, input dan output-nya. Yang mana P2M disini harus bisa melakukan penjaminan mutu tersebut. Semisal untuk penjaminan mutu dosen seperti bagaimana pengabdiannya, bagaimana pengajarannya, dan bagaimana penelitiannya. Dari segi pengajarannya disisni mutu dosen akan dinilai dari bagaimana kualitas pengajarannya, bagaimana proses evaluasinya. Untuk itu bapak Qomar menyediakan angket kepada mahasiswa untuk mengukur dan menjamin mutu dosen. Dan segi penelitiaanya disini sudah ada P3M yang mana disini dilihat dari bagaimana proses penelitian itu bermutu dan dilakukan evaluasi untuk mencapai mutu tersebut, untuk mahasiswa yang melakukan penelitian diluar kampus dalam menjaminkan mutu tersebut P2M juga melakukan pemantauan bagaimana kualitas praktek penelitian mahasiswa tersebut dengan memberikan kesempatan kepada P2M sebagai supervisi dalam kegiatan peletian mahasiswa tersebut. Sama halnya dengan karyawan dalam melakukan penjaminan mutu tersebut P2M mengawasi bagaimana kerja karyawan dalam pendidikan tinggi yang ada didataran idealitas tentang seberapa kongkritnya. Mengenai cara P2M memantau dosen yang masuk dan yang tidak masuk disini P2M memberikan raport disetiap semester tentang keaktifan dan kreatifitas mengajarnya. Dan untuk mahasiswa, P2M bekerja sama dengan kode etik untuk bagaimana menghasilkan mahasiswa yang bermutu. Semua instrumen dalam penerapan penjaminan mutu disini sebenarnya yang melakukan adalah prodi-prodi atau jurusan, P2M hanya menjamin apakah penjaminan mutu tersebut sudah sesuai dengan standart atau ketentuan mutu yang disepakati oleh badan bagian P2M. jadi dapat dikatakan bahwa prodi dan jurusan-jusan itu merupakan mitra dari P2M dalam penjaminan mutu itu senidiri.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel